Babi Hutan

Babi Hutan, Spesies yang Hampir Hilang Predatornya

Babi Hutan atau nama ilmiahnya Sus scrofa juga di kenal sebagai babi liar adalah babi yang banyak hidup di eurasia, afrika utara dan kepulauan sunda besar. Namun karena banyak campur tangan manusia sehingga membuat salah satu spesies hewan terbanyak ini mulai menyebar.

Tingginya populasi babi hutan di setiap daerah sebarannya di karenakan spesies ini dapat berkembang biak dengan cepat dan jumlah anak yang dilahirkan lebih banyak di bandingkan ungulata (kelompok mamalia yang menggunakan ujung kuku mereka untuk menahan berat badannya sewaktu bergerak).

Berkurangnya predator alami seperti harimau atau macan tutul menyebabkan spesies ini semakin berlimpah di hutan.
Babi hutan yang di kenal dengan sebutan celeng atau dalam bahasa inggris di sebut “Wild boar” di perkirakan merupakan nenek moyang babi liar yang menurunkan babi ternak (sus Domesticus).

Babi hutan ini dapat hidup hampir di seluruh tipe hutan, namun umumnya di jumpai di tipe habitat hutan yang rapat dengan tekstur tanah basah, misalnya tepi rawa atau di rawa-rawa yang hampir kering.

Secara morfologi satwa ini mempunyai rambut berwarna hitam, namun ada juga yang berwarna hitam kemerah-merahan. Pada masing-masing sudut mulut memiliki rambut yang lebih tebal, ekornya tidak berambut dan lurus.

Babi hutan yang baru lahir memiliki kulit yang berwarna coklat gelap atau kehitaman dengan garis putih yang memanjang secara longitudinal di sepanjang tubuhnya.

Gigi taring pada babi hutan tidak memiliki akar gigi dan tumbuh besar pada individu jantan. Pada gigi taring atas dan bawah dapat tumbuh melengkung keluar dan dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap predator maupun hewan lainnya.

Satwa ini merupakan hewan omnivora yang memangsa bermacam-macam invertebrata, ular, tikus, jamur, umbi-umbian, akar dan makan beberapa jenis buah dan sayuran yang termasuk nanas, padi dan jagung.

Babi hutan juga gemar berkubang di lumpur. Aktivitas berkubang memiliki beberapa peranan penting dalam kelangsungan hidup satwa ini.

Fungsinya adalah untuk menghindari gangguan serangga. Karakteristik kubangan dan aktivitas berkubang pada babi hutan dapat menunjukan kemampuan hewan ini beradaptasi dengan habitatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *